Malang, ITN.AC.ID – Kaji kegempaan di Yunani, Ratri Andinisari, S.Si., M.Si., Ph.D, lolos gelar Doktor Bidang Geofisika, dari National Central University (NCU) Taiwan. Dosen Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini menyelesaikan studinya dengan beasiswa untuk program doktoral/PhD pada Department of Earth Sciences. Dalam penelitiannya, Ratri fokus pada hubungan antara seismisitas (persebaran gempa) di Aegean dengan patahan-patahan dangkal dan aktivitas gunung api di area tersebut. Sub area yang didalami adalah Aegean bagian tenggara (Southeast Aegean atau SEA) dan Santorini-Amorgos Zone (SAZ). Kedua area ini dianggap menarik untuk dipelajari lebih lanjut karena pada keduanya terdapat beberapa gunung api aktif, dan berbatasan langsung dengan Hellenic Volcanic Arc pada bagian selatan. Agean merupakan kepulauan yang hampir semua milik Yunani. “Profesor saya dari Yunani. Maka merekomendasikan topik-topik yang ada di sana (Yunani). Saat penelitian saya berlangsung, di Indonesia sedang terjadi beberapa gempa. Tapi saya ambil data gempa di Yunani, karena data gempa di sana real time.
Sementara kalau di Indonesia saya kesulitan mendapatkan. Data dari BMKG juga terbatas,” ujar Ratri saat ditemui beberapa waktu lalu. Ratri meneliti gempa-gempa yang diakibatkan oleh proses tektonik, dan kaitannya dengan proses vulkanisme gunung berapi di sekitar batas subduksi di Yunani. Gempa bumi tektonik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh pergeseran lempeng plat tektonik. Sementara gempa vulkanik timbul akibat aktivitas gunung berapi. Sedangkan yang dimaksud subduksi adalah fenomena penunjaman kerak bumi dengan densitas besar di bawah kerak bumi yang lebih ringan. Yunani merupakan negara yang rentan terhadap gempa bumi. Karena Yunani berada pada batas Lempeng Anatolia, Lempeng Afrika, dan Lempeng Mediteran. Zona subduksi di bagian selatan Aegean dan dinamika kerak bumi di sekitarnya menyebabkan South-East Aegean dan Santorini-Amorgos Zone kaya akan patahan aktif. “Nah, saya harus menghitung puluhan patahan ini satu per satu.

Sebenarnya Yunani, secara geografis mirip Indonesia. Luasnya hanya sepersekian dari luas Indonesia. Dan, sama-sama sering terjadi gempa,” imbuhnya. Gempa bumi memiliki sifat berulang. Siklus perulangan ini sering disebut dengan earthquake cycle. Ada patahan yang setiap 50 tahun sekali akan menghasilkan gempa dengan magnetude lebih dari 5 skala richter (SR). Gempa bumi diatas 5,5 SR termasuk gempa bumi berkekuatan besar. Ratri juga meneliti patahan yang berpotensi menghasilkan gempa besar. Selain itu juga meneliti mekanisme dan asal sumber gempa.